'Kantor' Baru Bernama Co-working Space
24 Oct

‘Kantor’ Baru Bernama Co-working Space

Metrotvnews.com – Belasan anak muda duduk berjam-jam dengan laptop terbuka di hadapannya, adalah pemandangan lazim di banyak cafe di Jakarta. Pemandangan yang mungkin dalam beberapa tahun ke depan jarang ditemui seiring bermunculannya co-working space.

Sesuai namanya, co-working space berarti tempat bekerja bersama. Penggunanya akan berbagi ‘kantor’ -bahkan camilan- dengan pemilik bisnis atau pekerja lain. Selain saluran wifi yang kencang, kualifikasi utama co-working space adalah interiornya ‘nggak kantor banget’ dengan atmosfer akrab dan santai tapi serius yang diharapkan lebih memacu kreatifitas.

Faktor atmosfer merupakan fitur yang co-working space unggulkan kepada para pekerja mandiri, karyawan creative industry dan pelaku usaha rintisan yang sebelumnya bekerja di cafe, rumah dan kamar kost. Suasana rumah atau kamar sepertinya terlalu nyaman, sehingga kurang kondusif untuk bekerja. Sementara cafe, terlalu banyak faktor yang bisa membuat gangguan karena pengunjungnya sangat beragam dan lagi-lagi kurang kondusif untuk bekerja.

Berdasar data PT Cushman & Wakefield Indonesia, di Jabodetabek terdapat 20-an co-working space. Hampir semuanya berada di gedung perkantoran di pusat-pusat bisnis. Mereka juga menyasar segmen pasar yang relatif sama, yaitu para pekerja kelas middle-up yang sangat mobile untuk menemui klien masing-masing.

“Setelah rapat di suatu tempat dan harus balik lagi ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan, jelas memakan waktu karena macet. Adanya co-working space ini, menghemat waktu dan energi pekerja,” ujar David Cheadle, managing director perusahaan konsultan properti tersebut.

Merujuk pertumbuhan ekonomi nasional yang stabil dan trend pekerja mobile yang terus berkembang, jelas pasar co-working space di Indonesia masih sangat terbuka. Bahkan pemain co-working space kelas global seperti WeWork asal Amerika Serikat sedang berancang-ancang membuka cabangnya di Jakarta.

Masuknya pesaing baru dengan jaringan global merupakan warning bagi pengusaha lokal yang sudah lebih dahuku eksis untuk memperkuat diri. Di sisi lain masih terbukanya pasar juga kesempatan kepada pemain baru untuk menekuninya. Salah satunya “Ruang Hampa” yang berada di seberang Stasiun KRL Tanjung Barat, Jakarta Selatan.

“Aku coba menggarap segmen middle, jadi harganya ya menyesuaikan,” ujar Zaenal Budiyono, pemilik “Ruang Hampa” yang juga pengamat politik ini, tentang segmen pasar yang diincarnya.

Menurutnya pelanggan co-working space tidak melulu pekerja profesional atau freelancer dari kalangan middle-up. Bahkan mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas kuliah atau skripsi, di dalam pandangan Zaenal juga sedang membutuhkan tempat dengan atmosfer co-working space.

“Selama ini kalau bosan kerja di rumah, mereka pindah mini market 24 jam yang menyediakan tempat duduk dan wifi. Jangan lupa mahasiswa sekarang banyak yang terlibat dalam usaha rintisan dan nyambi freelancer. Mereka sekarang nggak bercita-cita jadi karyawan, tapi lebih explore kemampuan diri dengan jadi mandiri. Tempat penting bagi mereka bekerja dan bertemu klien, tapi menyewa kantor sendiri kan belum mampu,” papar Zaenal.

Leave a Reply

WhatsApp chat